Cari (Telusuri) di Blog Ini

Memuat...

Kamis, 31 Desember 2009

Water filtering untuk Kolam Pembesaran

Batu Zeolit sebagai filter (tampak atas)


Batu Zeolit sebagai filter (tampak samping)


Proses filtering yg murah dan praktis


Sisi lain prekondisi air kolam

26 komentar:

  1. Saya sangat tertarik sekali budidaya ini ,banyak pengetahuaa saya dapat dari situs ini dan mengilhami saya.berapa ya kira2 harga terpal yang jumbo utk pembesaran.saya ada di sragen. Yudi setyo

    BalasHapus
  2. @ Sdr. Yudi Setyo di Sragen.
    Terima kasih atas kunjungan & komen-nya.
    Untuk ukuran Jumbo 10mx10m di Jogja sekitar Rp. 7rb-10rb/m2, tergantung type, kwalitas & merknya. Untuk ukuran lbh besar biasanya dng pemesanan terlebih dahulu. Jwban pertanyaan anda via shoutmix kami link ke Admin-JWB di shoutbox. Monggo dipun "klik" kemawon. :) *[admin]

    BalasHapus
  3. Kriswahyudi
    Saya selalu ikuti blog ini dan jadi SEMANGAT 45 tapi karena tinggal di jakarta jadinya gak punya LAHAN ihiks ihiks.... saya udah buat kolam terpal mini uk. 1,5x2m. Tinggi cuma 60cm dan tinggi air 45cm. Saya isi ikan nila merah 50 ekor uk. 10cm, ikan patin uk.10cm 25 ekor dan bawal 200 ekor uk.5cm. Karena LUMAYAN padet (maklum napsu banget pakde tapi gak punya lahan) maka saya kasih aerator 2 buah buat oksigen dan ikan gak megap2 lagi ke permukaan. Pernah saya kasih fliter 24jam tapi kok kotorannya banyak banget sampe mampet. Sekarang saya gak pake filter tapi saya buatkan air mancur saja 24jam karena klo di matikan ikannya megap2...
    Pertanyaan saya: Apakah filter batu zeloit diatas harus 24 jam juga. Trus apakah tujuannya sampai airnya BENING sekali atau masih agak2 butek ?

    Saya sedang mempelajari pemupukan kolam untuk pembuatan plankton karena air kolam saya tak pernah ijo yang ada kuning keruh sehingga tiap 3hari saya ganti air hingga 90%. Ternyata belajar tentang air kok susah ya Pakde ? Ikan saya sudah 1,5 bln kok nila nambah 3-5cm bawal 3cm tapi patin gak ada perubahan...iki piye ? Rencana juli saya mau pindah ke bandung, moga bisa dapet tanah yang luas hingga saya bisa buat beberapa kolam paling tidak 100m aja deh. Nanti kapan2 pengin main ke tempat Pakde tapi saya malu karena PEMULA banget... Terima kasih ya Pakde... Salam SUKSES buat Pakde dan teman2nya...

    BalasHapus
  4. NB; Selama ini ikan saya kasih makan pelet F-718 prod. Charoen porkpand sehari 3x pagi sore dan malem. Kasih pakannya juga sedikit sedikit sampe ikan kenyang, dan itu cukup banyak juga.

    BalasHapus
  5. Salam kenal pak Kris.
    Senang rasanya bisa berbagi info dengan Anda dan juga rekan2 pembudidaya ikan serta temen2 pengunjung blog ini. Diskusi seputar dunia perikanan khususnya perikanan budidaya memang selalu menarik untuk diikuti. Terlebih lagi bila sudah menyangkut soal air kolam budidaya, baik kuantitas maupun kualitasnya termasuk juga sumber air baku yg digunakan dan teknik pengelolaanya. Ceritanya pasti seru dan mungkin lebih menarik dibandingkan dengan sang ikan itu sendiri.. :)

    Upaya untuk mempertahankan kualitas air kolam agar senantiasa memenuhi standar air budidaya memang dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sederhana (murah) hingga yang tergolong rumit (mahal). Semua tergantung juga pada faktor kualitas air baku yang digunakan. Terkadang (terutama saat musim kemarau) kami pun harus melakukan pengolahan air secara bertahap mulai dari proses pengendapan, penyaringan/ filtering, aerasi, pengaraman & aplikasi probiotik hingga diperoleh kondisi air yang memenuhi standar budidaya. Diperlukan kesabaran dan ketelatenan yang lebih pada proses treatment ini. Sedikit melelahkan memang. Namun dengan bekal 'semangat 45' pak Kris, kami yakin segala rasa penat ini bakal terlupakan nanti saat menyaksikan ikan-ikan tumbuh sehat, gesit & lincah terutama saat saling berebut pakan yang diberikan dan dimakan dengan lahap.

    Informasi tentang manfaat penggunaan batu zeolite dalam mempertahankan kualitas air pada kolam budidaya (khususnya kolam terpal) Insya Allah akan kami tampilkan pada beberapa postingan mendatang.

    Sebagai gambaran awal, batu-batu zeolite memiliki peran penting dalam membantu menjaga kualitas air kolam karena dapat berfungsi sebagai:
    - stabilisator pH (pada kisaran netral)
    - filter
    - penyerap kotoran
    - pengikat unsur logam yg terkandung dalam air (baku) maupun lumpur pekat di dasar kolam
    - media pembiakan (tumbuhnya) bakteri (al, jenis nitrobacter)
    - katalis plankton, pakan alami bagi ikan (dengan ketersediaan bakteri nitro yang cukup)
    - sumber mineral, memiliki kandungan kalsium yang
    Pada beberapa kondisi, secara tidak langsung batuan zeolite dapat membantu memulihkan nilai DO (dissolved oxygen) yang berkurang (turun secara drastis) akibat akumulasi kotoran ikan dan sisa2 pakan di dasar kolam. Akumulasi lumpur kotoran inilah yang menyebabkan konsentrasi amoniak dan sulfida (bersifat racun bagi ikan) meningkat tajam. Inilah alasannya kenapa proses pen-siphon-an (penyedotan) lumpur dasar kolam terpal harus secara rutin dilakukan (terjadwal).

    'Semangat 45' pak Kris memang patut diacungi jempol !. Semoga menjadi pemacu bagi kami dan juga teman2 pembudidaya dan rekan2 sekalian, pemerhati dunia budidaya perikanan khususnya media kolam terpal. Terima kasih atas perhatian pak Kris pada blog kami. Semoga kolam2 terpalnya yang di Bandung nanti dapat segera berproduksi (panen) ya pak Kris. Kami tunggu lho kelanjutan infonya. :)

    BalasHapus
  6. pak saya mau numpang nanya bagaimana caranya menumbuhkan pakan alami (phyto+zooplankton) pada kolam terpal. terima kasih

    BalasHapus
  7. senang bisa dapet blog ini...pak mau numpang nanya bagaimana caranya menumbuhkan pakan alami (phyto+zooplankton) pada kolam terpal. terima kasih

    BalasHapus
  8. Menumbuhkan pakan alami dapat dilakukan dengan pemupukan yang dapat dibuat sendiri berupa pupuk kandang/ kotoran hewan ternak, misalnya ayam atau puyuh. Lebih praktisnya, Anda dapat menggunakan pupuk organik buatan (produk olahan pabrik) yang bisa diperoleh di poultry (toko khusus yang menjual pakan ternak /ikan & berbagai perlengkapan /peralatan budidaya).

    Sebelum pemupukan lakukan terlebih dahulu proses penggaraman air kolam dengan dosis normal 200 gram/m3 (tak perlu berlebihan) kemudian air kolam dibiarkan selama kurang lebih 3 hari. Pemupukan yang bersamaan waktunya dengan penggaraman sangat tidak dianjurkan karena plankton tidak akan tumbuh dengan baik. Tumbuhnya plankton (pakan alami ikan) dapat dipacu dengan menggunakan katalis plankton atau produk sejenis, baik yang berbentuk serbuk maupun cairan. Dosis pemakaiannya disesuaikan dengan kondisi air kolam (terutama pH) atau mengikuti petunjuk yang tertera pada kemasan (label) masing-masing produk. Dalam rentang waktu 3-7 hari setelah pemupukan + katalis plankton, air kolam akan berubah warna menjadi bening kehijauan. Ini menandakan plankton telah tumbuh dan bibit ikan siap untuk ditebar.

    Sebaiknya sebelum pemupukan, air kolam telah dipastikan memenuhi syarat untuk budidaya, setidaknya telah dilakukan pemeriksaan terhadap nilai pH, dissolved oxygen (DO), tingkat kekeruhan (TDS), temperatur dan salinitas. Khusus untuk air di kolam penetasan, perlu juga dicermati nilai kadar logam & kandungan mineralnya. Kadar mineral logam yang tinggi akan menyebabkan telur ikan gagal menetas.

    Terima kasih telah mengunjungi blog kami.

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaikum

    Saya Darma dari Prambanan Sleman.Saya hendak bertanya tentang kondisi air kolam terpal yang sangat hijau dan berlumut.Apa ini baik atau buruk untuk kehidupan ikan??.

    Selanjutnya kondisi air yang bagaimanakah? Penyiponan harus dilakukan.Atas Jawabannya diucapkan terimakasih :)

    Wassalamu'alaikum

    BalasHapus
  10. @Darma di Prambanan, Kalasan, Sleman.
    Yang bagus airnya agak bening kehijauan atau dominan hijau namun tak terlalu pekat. Terlalu banyak lumut juga kurang baik terutama pada segmen pembibitan karena oksigen terlarut yang sangat penting bagi pertumbuhan ikan justru banyak terserap oleh lumut dan juga ganggang (algae) apalagi jika pertumbuhannya sampai tak terkendali atau terjadi blooming algae.
    Pen-siphon-an dilakukan jika air mulai terlihat pekat dan ikan gurame lebih sering muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen. Apalagi jika muncul banyak lapisan lendir bergelembung (kecil-kecil) di permukaan kolam. Hal ini menandakan air kolam tidak sehat. Lakukan pen-siphon-an hingga tuntas dan kurangi air kolam sebanyak 30%-40% lalu segeralah ganti air kolam yang terkuras dengan air baru yang segar dengan cara pancuran (lakukan dari beberapa titik jika memungkinkan). Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  11. saya lika..
    pemula dalam hal beternak lele..
    tahap pertama saya mencoba beternak dengan menebarkan benih sebesar rokok mild sebanyak 260 ekor.. kemudian setelah 1 bulan ternyata yang bertahan sebanyak 223 ekor yang kemudian sya pisah yang besar dan yang kecil dengan media jaring.. tapi yang jadi kendala adalah air kolam tempat saya ternak selalu berlumut..
    bagaimana solusinya?...
    dan juga saya coba menggunakan terpal dengan ukuran 2x3.. berapakah kapasitas maksimal untuk penebaran benih untuk ukuran kolam tersebut?.. terima kasih IKT

    BalasHapus
  12. @Emra (lika)
    - Perihal cara mengatasi lumut yang berlebihan pernah dibahas di sini, silakan di klik.
    - Sekitar 500an ekor tetapi jangan lebih dari 600 ekor, berlaku untuk kedalaman effektif genangan air kolam tidak kurang dari 80 cm, tingkat kepadatan normal 100 - 125 ekor/ m3. Terima kasih kembali dan semoga berhasil.

    BalasHapus
  13. salam kenal pak de....saya dody, mau nanya, untuk kedalaman kolam pembesaran lele bagaimana dengan ketinggian air tersebut? saya menaruh bibit ikan lele ukuran 5-7 dengan ketinggian air kira2 60-80cm. kolam yang saya gunakan kolam air tanah.

    BalasHapus
  14. @Dody
    Salam kenal kembali Pk Dody. Kalau boleh tahu berapa ukuran kolam pak Dody? Menurut kami jika luasan setiap kolamnya cukup besar (>25 m2), kedalaman air tsb telah cukup memadai. Selanjutnya kedalaman genangan ditambah dan dipertahankan pada kisaran 80an cm hingga lele siap dipanen.
    Dibanding kolam permanen atau terpal, kolam2 tradisional perlu lebih sering dikontrol kecukupan volume airnya terutama jika tanah aslinya tergolong porous (tidak sepenuhnya kedap air). Pada kolam tradisional juga dianjurkan untuk menggunakan sistem air mengalir secukupnya (tidak perlu sederas seperti pada pemeliharaan ikan nila atau yg lainnya). Semoga jawaban kami bisa membantu. Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  15. jimmy (jimmystt@gmail.com)21 Juni 2010 21.21

    Salam kenal om,

    saya jimmy dari surabaya, membaca website ini saya jadi tertarik mau budidaya nila di perkarangan rumah.

    mau tanya, batu zeolit itu batu apa dan bisa dibeli dimana yah?
    apakah untuk filter cukup cuma pakai batu zeolit saja tidak perlu dikasih karbon aktif dan kapas filter?
    apakah batu zeolit ini bisa dipakai selamanya tidak perlu dibuang dan diganti yang baru?

    terima kasih
    jimmy

    BalasHapus
  16. @Jimmy di Surabaya
    Sejenis batu dengan kadar mineral Kalsium yang relatif cukup tinggi (dalam bentuk senyawa CaO3 atau lainnya). Bisa diperoleh di poultry2 atau toko2 perlengkapan aqurium, biasanya tersedia dalam berbagai bentuk (butiran kecil, sedang atau pecahan agak besar) seperti terlihat pada foto di atas. Tidak ada salahnya jika anda menambahkan karbon aktif namun menurut kami jika kualitas air baku u/ kolam cukup bagus maka penggunaan batu zeolit dan aerasi sederhana telah cukup memadai. Syaratnya pilihlah batu zeolit yg berwarna hijau kebiruan atau yang direkomendasi oleh kementerian ESDM. Jika dominan warna kecoklatan sebaiknya segera diganti karena sebagian kandungan Kalsium nya telah teroksidasi.
    Untuk skala kolam budidaya berukuran besar, penggunaan filter halus (kapas) seperti pada aquarium ikan hias memang dirasakan kurang praktis terutama bagi sebagian besar petani ikan yang berada di wilayah yang cukup jauh dari perkotaan. Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  17. Selamat pagi pak,
    A.Saya punya kolam terpal gurami 4x5 dan saya tebar 700 ekor ukuran korek gas,sampai sekarang sudah sebesar telapak tangan orang dewasa...aplikasi probiotik untuk air dan pakan.kenapa tidak ada yang sakit walaupun air 2 bulan gak diganti sampai air keruh coklat sekali apa dampak lainnya ( jadi khawatir)napsu makan tidak selahap pertama tebar walaupun pakan habis tapi agak lambat...pada 2 bulan pertama sudah ganti air 3 kali total 100% karena kerusakan terpal.sekarang menginjak bulan ke 6.
    B.Dikolam yang lain 4x5 saya tebar lele 10ribu ekor ukuran jari telunjuk (kira2ukuran berapa ya?) aplikasi probiotik untuk pakan dan air 1 minggu pertama kematian kira2 100ekor...setelah 3 minggu sudah adaptasi dan tidak ada kematian lagi...1)berapa minggu lagi harus saya sortir/jarangkan.2) apakah perlu saya aplikasikan filter aktif(spt kolam koi)dengan tujuan untuk menyiasati padat tebar,mengingat terbatasanya lahan.terimakasih sebelumnya .
    salam

    BalasHapus
  18. @Heru
    A. Tampaknya kualitas air baku di tempat pak Heru tergolong cukup bagus shg hanya dengan aplikasi probiotik pada pencampuran pakan dan pada air kolam, laju pertumbuhan ikan gurame dewasa masih tergolong normal walau mungkin belum mencapai tingkat pertumbuhan yang optimal. Keruhnya air kolam memang tidak selalu disebabkan oleh kotoran hasil metabolisme ikan dan sisa2 pakan namun bisa juga karena meningkatnya populasi mikroorganisme tumbuhan air jenis algae atau sering disebut juga sebagai ganggang. Populasi ganggang yg berlebihan dapat terlihat dari kondisi air kolam yang cenderung berwarna hijau pekat atau merah-kecoklatan yg dikenal dengan sebutan 'blooming algae' yg dapat menyebabkan turunnya kandungan oksigen terlarut dalam air kolam (terutama saat malam hingga dini hari). Kondisi ini tentu tidak nyaman bagi ikan shg gurame (walau bersifat labirin) akan lebih sering muncul ke permukaan air u/ mengambil oksigen langsung dari udara. Metabolisme ikan pun terganggu (ditandai nafsu makan yg terlihat menurun), pertumbuhan melambat dan cenderung mudah mengalami stress.
    Untuk memulihkan kembali nafsu makan, Anda dapat mencoba beberapa cara berikut ini:
    - 50% air kolam diganti dengan air baru yang lebih segar (lakukan dengan cara pancuran sederhana sekaligus utk meningkatkan kadar oksigen terlarut)
    - lakukan penggaraman (saat pagi hari) dengan dosis normal (1 ons/ m3)
    - aplikasi probiotik jenis nitro yang mengandung formula khusus pengendali algae, dibrikan 3 - 5 hari sekali (saat pagi hari)
    - selama beberapa hari pemberian pakan pellet dihentikan dan diganti dengan hijauan daun (talas, ganjah gurami, pepaya atau ketela, dsb)
    - pakan pellet dapat diberikan kembali secara bertahap (sedikit demi sedikit) setelah ikan gurami terlihat lebih sehat dan lincah dibandingkan kondisi sebelumnya
    - gunakan jenis pellet yang kandungan proteinnya tidak terlalu tinggi, misal 25 - 27%
    Selain aplikasi probiotik agar kondisi air kolam dan kesehatan ikan tetap terjaga maka ada baiknya Anda memiliki beberapa alat bantu untuk memantau kualitas air secara rutin (terjadwal), misalnya; pH meter/ kertas lakmus, thermometer stick, secchi disc (utk pengukur tingkat kekeruhan air), dsb.
    B. Kira2 ukuran 3/5 sampai 4/6, padat tebar idealnya lk 300 - 350an ekor/ m3
    1. Jika terlalu padat maka 2 sd 3 minggu berikutnya bibit lele harus segera diseleksi (grading) karena akan terjadi ukuran yg cukup bervariasi antara 7/9 hingga 9/11. Pada saat bibit lele mencapai ukuran ini maka tingkat kepadatan sebaiknya dipertahankan pada kisaran 125 - 150 ekor/m3. Jika kedalaman effektif genangan air kolam saat ini lk 70cm maka jumlah bibit lele yang seharusnya ditebar adalah 4m x 5m x 0 ,7m x 300an ekor/m3, yakni 4500an ekor. Ada baiknya tingkat kepadatan 10.000 ekor bibit lele di kolam Anda saat ini dikurangi agar kualitas air dan kesehatan bibit lele lebih mudah dikontrol.
    2. Boleh saja namun pengaruhnya tidak terlalu besar. Sebagai alternatif Anda bisa menggunakan filter batu zeolit. Untuk mensiasati keterbatasan luas lahan lebih disarankan untuk menambah kedalaman kolam (jika memungkinkan) shg kedalaman genangan air dapat bertambah hingga mencapai 1m hingga 1,25 m.
    Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  19. Selamat pagi pak,
    Salut buat bapak yang meskipun sibuk masih sempat berbagi ilmu dengan kami para pemula.
    sebagaimana pengolahan air yang baik merupakan sarat mutlak dalam budidaya ikan maka saya ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.1 apakah dengan ph yang stabil dan amonia yang rendah merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk pertumbuhan ikan karena dengan penggantian air 50% apa tidak lebih baik dengan sirkulasi dengan menggunakan pengurai amonia dan zeolit secara berkala ? dengan asumsi air yang balik lagi ke kolam ph-nya kan tidak berubah.karena saya memakai air yang bersumber dari waduk/bendungan air dan mengalir lewat sungai disekitar areal kolam saya, dan saya menggunakan pompa mesin untuk mengisi kolam (posisi sungai lebih rendah)sehingga saya mencoba untuk "mengolah" air hasil penyiponan untuk dipakai lagi, untuk mengurangi intensitas penyedotan air sungai.2.Untuk start awal bibit dari penyuplai khan kualitas airnya pasti tidak sama dengan air baru yang sudah saya olah selama ini (cuma pakai zeolit aja saya) apalagi asal bibit kolam tanah. Apakah kematian bibit pasti ada? berapa % normalnya kematian awal tebar ? apakah perlu kita ambil sample air dari kolam asal bibit untuk antisipasi perbedaan kondisi air.
    3.Ukuran 3/5 artinya apa pak? cm(panjang ikan)atau mm(diameter ikan)
    terimakasih atas jawabannya.
    salam

    BalasHapus
  20. @Heru
    Salah satu saran kami utk mengganti 50% vol air kolam pembesaran bibit ikan gurame adalah jawaban yg sifatnya kasuistis & tidak dimaksudkan u/ berlaku umum dan seterusnya. Pilihlah satu atau dua saja dari enam saran yg telah kami sampaikan sebelumnya dan tidak perlu seluruhnya, sesuaikan saja dengan kondisi air di kolam2 Anda saat ini. Jika kualitas air kolam masih memadai maka cukup dilakukan sirkulasi air (lk 25%). Setelah kondisi normal tercapai (bibit ikan telah meningkat nafsu makannya, air kolam tidak lagi terlihat sangat keruh/ pekat serta berbau menyengat) maka dapat dilakukan pola pemeliharaan normal seperti biasanya. Pada budidaya gurame (segmen pembesaran) normalnya penggantian air kolam cukup dilakukan 3 bulan sekali, itupun tidak seluruhnya cukup 25 - 30 % vol max air kolam. Bahkan kami pernah mencoba baru melakukan penggantian air kolam setelah 5 - 6 bulan. Namun hal ini harus dibarengi dengan pemantauan ketat (intensif) terhadap parameter kualitas air kolam, kesehatan dan laju pertumbuhan bibit ikan gurame yg dilakukan secara rutin disertai aplikasi probiotik yg tepat sasaran.
    1. Kondisi air kolam dengan pH netral dan kadar amonia rendah memang menjadi faktor penting yg harus selalu dijaga dan dipertahankan agar tercipta kondisi yg nyaman bagi bibit ikan untuk tumbuh dengan sehat dan berkembang dengan optimal. Sebagus apapun kualitas pakan (pellet) tanpa ditunjang lingkungan kolam budidaya yang sehat tentu akan sulit mencapai hasil seperti yg diharapkan. Sangat disarankan u/ melakukan pemantauan secara rutin (terjadwal) terhadap kualitas air baku maupun air kolam budidaya serta tingkat kesehatan bibit ikan sedini mungkin (tepat pd saatnya) sesuai dng jadwal yang telah Anda susun dengan rapi. :-)
    Re-sirkulasi air kolam memang bisa dilakukan terutama jika ketersediaan air baku sangatlah terbatas (seperti yang dilakukan oleh rekan2 pembudidaya di Kab. Gunung Kidul-DIY). Namun demikian kami sarankan agar tidak melakukan re-sirkulasi lebih dari 3 kali karena kondisi air bakal tidak effektif lagi utk digunakan sebagai air baku budidaya.
    2. Besar kecilnya tingkat kematian bergantung pada mulus tidaknya proses adaptasi terhadap lingkungan yg baru. Untuk bibit yg berasal dari sesama kolam terpal tingkat kematian dapat ditekan hingga 10% bahkan dengan proses pre-conditioning air kolam yang tepat serta klimatisasi dan cara penebaran bibit yang benar maka tingkat kematian berada dibawah angka 5%. Untuk bibit yg berasal dari media pemeliharaan selain kolam terpal dan permanen maka sebaiknya bibit di karantina terlebih dahulu bila perlu lakukan proses adaptasi secara bertahap.
    3. artinya variasi ukuran panjang bibit lele adalah berkisar antara 3 cm hingga 5 cm. Kami lebih sering menuliskannya sebagai 3/5 krn lebih praktis saja dibanding dengan 3 - 5.
    Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  21. salam kenal pakdhe, nama saya tris dari losari jateng, saya tertarik untuk usaha pembesaran lele untuk konsumsi. saya sudah baca2 sedikit banyak di blog ini dan sangat memberi wawasan buat saya.
    pertanyaan saya..
    1. apakah asal bibit lele suatu daerah yang berbeda iklim dengan daerah pembesaran berpengaruh terhadap peryumbuhan dan daya tahan lele? bagaimana mengakalinya? mengingat daerah saya adalah daerah pantura yang panase puol.

    2. saya dari tadi baca soal PH tapi saya tidak mudeng soal arti, fungsi, cara ngukur, dan standar optimal untuk pembesaran lele khususnya di daerah saya, pantura.

    3. saya sedang mencoba membuat kolam ukuran 3x4m . rencana tebar bibit minggu depan. sudah proses precondisi air, selama 3 hari tapi kok airnya gak jadi ijo ya pak? apa sudah boleh di tebari bibit atau musti nunggu ijo dulu?

    4. terimakasih atas jawabannya

    BalasHapus
  22. salam kenal pak,
    aku mau tanya pak di mana dapat Batu Zeolit dan berapa harganya 1 kilo, bisa lewat fb pak, alamat fbku Pak, MusakkarZack
    trmksi Pak kerja samanya
    www.diingatterus@yahoo.com

    BalasHapus
  23. nama saya joko pak de...
    mohon bimbingannya...
    saya pnya kolam terpal ukuran 1,5 X 3,5 m dengan ktinggian air 50 cm...
    saya tebar ikan lele 1600 ekor ukuran rokok mild pda awal penebaran...
    setelah dua bulan kok blum siap panen?
    (ukuran ikan kecil)...
    mgkin krna pmberian pakan yang kurang banyak...
    soalnya saya pake pellet,bsa tekor klo kasi banyak2...
    bgaimana pakde ini...
    1.bagaimana membuat pakan alternatif?
    2.apakah menggunakan pakan pellet yang murah tidak masalah?
    3.bagaimana pemberian dosis pakan?
    4.sbenarnya brapa bulan lele siao panen ukuran 8-10 ekor per kilo?
    5.bagaimana penggunaan pakan organik?

    BalasHapus
  24. saya zaen pak de,
    saya mau tanya kendala pada kolam lele saya pak dhe. kemarin setelah menyortir ikan lele, sekitar 100 ekor ikan lele saya mati. dan airnya menjadi banyak gelembung-gelembung kecil. apakah ini mennjukkan bahwa air kolam sudah tidak sehat?? dan bagaimana cara penanganannya pak dhe??
    mohon petunjuknya dan trima kasih sebelumnya.

    BalasHapus
  25. Assalamualaikum
    saya Syamsi F pak dari Lumajang..
    saya ingin memulai usaha ini..
    tolong saya minta bantuan bapak (p.mursidi) untuk membantu saya memulai usaha lele ini
    terutama soal kolah terpal dan airnya...
    thanks

    BalasHapus
  26. riski:pak saya pengusaha lele di malang, salam kenal pak,
    pak saya sudah 3 tahun budidaya lele kebetulan di daerah saya dingin kalo pada bulan mei-juni, , ,dan pasti ikan akan gak kuat ama suhunya bagai mana cara menambah suhu dalam air dengan cara tradisional
    trimakasih sebelumnya

    BalasHapus

Mohon cantumkan nama anda, email bersifat optional (bisa disertakan/tidak) saat menuliskan pesan, kesan ataupun komentar. Terimakasih atas kunjungan anda ke blog kami :-)