Cari (Telusuri) di Blog Ini

Memuat...

Jumat, 26 Februari 2010

Berkunjung ke Sentra Perbenihan Ikan Nila & Gurame di Bokesan, Sleman-DIY

Lebih dari 40 kolam permanen masing-masing berukuran 2,5x5 m2 terlihat berjajar rapi di area penetasan (hatchery) di dusun Bokesan, desa Sindumartani, Kec. Ngemplak, Kab. Sleman, DIY. Sepintas lalu keberadaan kolam-kolam penetasan beratapkan fiber ini tampak begitu menonjol diantara kolam-kolam lainnya. Terlebih lagi karena posisinya yang diapit oleh dua kolam pemeliharaan ikan yang masing-masing berukuran 8x24 m2.

Tepat di sisi Barat area penetasan ini terdapat area pembesaran bibit ikan dengan 12 kolam permanen masing-masing berukuran 4x10 m2. Sedangkan area pendederan benih ikan menempati posisi terujung dengan 8 kolam permanen yang masing-masing berukuran 4x6 m2 berikut 2 kolam peralihan (reserve) masing-masing berukuran 2,5x4 m2. Inilah sekilas gambaran skala usaha Budidaya Perikanan yang dijalankan Pak Sulistiyo beberapa tahun belakangan ini.

Pada mulanya saya memutuskan untuk serius menekuni dan mengembangkan bidang usaha budidaya perikanan ini setelah peristiwa Gempa Jogja tahun 2006 yang lalu," kata Pak Sulistiyo mengawali obrolan dengan Pak Mursidi saat kami berkunjung ke lokasi usahanya di Bokesan beberapa hari lalu. "Ditengah situasi yang serba sulit saat itu, para pembudidaya disini membulatkan tekad untuk bersama-sama segera bangkit dari keterpurukan," kenangnya. "Alhamdulillah, dengan dukungan dari semua pihak serta kekompakan yang telah terjalin dan terus dibina oleh sesama rekan pembudidaya selama ini, setahap demi setahap usaha inipun mulai berkembang," lanjutnya. Beliau kemudian mengajak kami melihat kolam penetasan (hatchery) yang sedang dalam proses pembersihan dan pengeringan setelah panen bibit beberapa hari berselang. Sementara pada sisi yang berseberangan tampak bentangan terpal-terpal biru menaungi 21 kolam penetasan lainnya. Terpal-terpal biru tersebut sekaligus menandakan bahwa proses penetasan telur dan pemeliharaan benih tengah berlangsung saat itu.

Pak Sulistiyo pun tidak keberatan untuk berbagi cerita tentang awal menekuni usaha Budidaya Perikanan di atas lahan seluas lebih dari 3500 m2 yang mulai dirintisnya beberapa tahun lalu. Setelah berjalan selama lebih kurang 4 tahun, kini sentra perbenihan dengan 80-an kolam permanen ini telah memasarkan produksinya ke berbagai daerah di pulau Jawa, Kalimantan dan sebagian Sumatera. Selain memproduksi benih, disini juga dibudidayakan berbagai jenis ikan air tawar hingga ukuran konsumsi, tak terkecuali ikan gurame dan nila. Kedua jenis ikan inilah yang paling diminati konsumen saat ini sehingga sering dijuluki sebagai primadona. Harga jualnya pun dapat dikatakan relatif stabil sepanjang tahun. Kini sebagian besar hasil produksi terserap oleh pasar-pasar lokal di kota Yogyakarta, Sleman dan sekitarnya sedangkan sebagian lagi guna memasok permintaan dari luar DIY termasuk kota Denpasar, Bali.

"Menekuni usaha pembibitan ikan air tawar ini boleh dibilang gampang-gampang susah," kata Pak Sulistiyo yang pernah menjadi tenaga ahli pada sebuah perusahaan multinasional Jepang di era 90an lalu. "Disaat produksi dan permintaan bibit ikan cukup tinggi seperti saat ini, justru ketersediaan pasokan cacing sutera (tubifex sp, red) yang merupakan pakan alami bagi benih ikan yang baru tumbuh sangatlah terbatas. Disamping mulai sulit didapat harganya pun kini telah melonjak hampir 2 kali lipat dari harga normal. Sebaliknya di saat musim kemarau nanti, pasokan cacing sutera tersedia cukup melimpah sedangkan produksi dan permintaan benih ikan justru berada pada level terendah," kata pemilik 8 kolam ikan di halaman rumahnya di Bantul ini. "Untuk mengatasi hal ini kami pun akhirnya menyiapkan team khusus yang bertugas mendatangi lokasi pengepul cacing sutera di kota Semarang dan beberapa wilayah sekitarnya. Hal ini terpaksa ditempuh agar kontinuitas pasokan cacing sutera yang diperlukan dalam pemeliharaan bibit ikan tetap terjaga," imbuh beliau. Namun upaya 'perburuan' cacing sutera hingga jauh keluar kota ini pun terkadang belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Selain jumlah yang didapat ternyata belum mencukupi kebutuhan, faktor jauhnya jarak tempuh dan lamanya waktu pengangkutan menjadi satu persoalan tersendiri.

Obrolan kemudian berlanjut di samping rumahnya yang cukup teduh diantara hamparan persawahan dan kolam-kolam budidaya ikan nila merah milik rekan-rekan pembudidaya yang tergabung dalam Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan) Mina Ngremboko. Di kejauhan tampak beberapa pembudidaya sedang berkumpul di tepi kolam-kolam pemeliharaan ikan nila yang sebagian besar diantaranya tengah bersiap menyongsong panen. Sejak tahun 2004 kawasan yang semula dikenal sebagai sentra produksi lele kini telah menjelma menjadi salah satu sentra produksi benih ikan nila andalan bagi Kabupaten Sleman dan Propinsi DIY. Total luas lahan yang berhasil dikembangkan kini telah mencapai 45 hektar.

Beliau pun kemudian menceritakan pengalamannya selama berkecimpung di dunia budidaya perikanan, terutama suka-duka dalam menekuni dan menjalankan roda usaha pembenihan hingga terdorong untuk mencoba menerapkan teknik baru pemijahan (breeding) pada indukan ikan gurame dengan menggunakan pemacu hormonal Ovaprim (produk import buatan Swedia & Kanada, red) yang dilaksanakannya bersama BBI Cangkringan, Sleman beberapa waktu lalu. "Sebenarnya teknik pemijahan seperti ini telah diterapkan pada beberapa jenis ikan indukan lainnya namun untuk indukan gurame mungkin inilah yang pertama kali dicoba," kata beliau sambil membuka laptopnya. "Walaupun tingkat keberhasilan dengan teknik pemijahan ini hasilnya cukup bagus, biaya yang harus ditebus untuk satu kali pemijahan ternyata masih cukup tinggi. Mungkin karena Ovaprim adalah produk import sehingga harganya pun cukup lumayan. Namun menurut saya masih sebanding lah dengan kwalitasnya," kata alumnus salah satu institusi pendidikan tinggi ternama di negeri Sakura ini.

Setelah jeda waktu sholat dzuhur beliaupun mempersilakan kami mencicipi ikan nila goreng hasil produksi sendiri. "Wah, ini sambutan yang luar biasa," kata Pak Mursidi yang tak menyangka bakal disuguhi ikan nila goreng a la Bokesan yang mengundang selera. Sambil menikmati hidangan yang lezat, obrolan santai pun berlanjut seputar dunia perikanan dan budidaya terutama tentang penerapan teknologi tepat guna yang sifatnya ramah lingkungan. Pak Sulistiyo pun sempat mengutarakan ketertarikannya untuk mencoba mengembangkan budidaya kepiting cangkang lunak yang akhir-akhir ini pamornya mulai meningkat.

Sebelum kami berpamitan, di akhir obrolan beliau sempat mengungkapkan harapan sekaligus keyakinannya akan kemampuan putra-putri bangsa ini dalam menguasai dan mengembangkan teknologi modern di bidang Agriculture & Fishery khususnya pada budidaya perikanan. Beliau berharap ke depan nanti dapat dihasilkan produk-produk perikanan unggulan berkualitas tinggi berikut pengembangan teknologi modern di bidang budidaya perikanan hasil karya anak negeri yang memiliki daya saing kuat terhadap produk-produk luar negeri. Karena hanya dengan cara inilah ketergantungan kita pada teknologi dan produk-produk import secara bertahap dapat dikurangi.

Harapan Pak Sulistiyo tentu menjadi harapan semua insan perikanan di negeri ini, terlebih lagi dengan telah dicanangkannya 'Revolusi Biru' oleh Pemerintah Pusat melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan baru-baru ini. Diharapkan dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dunia perikanan budidaya di tanah air akan semakin maju dan berkembang pesat hingga patut diperhitungkan tidak saja di tingkat regional tetapi juga di tingkat dunia. Semoga.

*[admin]

36 komentar:

  1. Beberapa hari lalu postingan berjudul "Berkunjung ke Sentra Perbenihan Ikan Nila & Gurame di Bokesan, Sleman-DIY" sempat menghilang dari halaman blog ini. Hal ini baru kami sadari pada 2 hari berikutnya. Rupanya tanpa sengaja postingan tersebut turut terhapus saat beberapa draft postingan yang sudah tak terpakai kami singkirkan dari daftar posting (karena versi final-nya sudah ter-posting). Beruntung kami masih memiliki arsip/ file postingan tersebut (berikut foto-fotonya) sehingga dapat ditampilkan kembali pada halaman yang sama di blog. Namun sayangnya semua komentar dan pertanyaan dari rekan-rekan pengunjung blog pada postingan yang sama sebelumnya tak berhasil ditampilkan kembali secara langsung dari sumbernya (mail box). Sebagai jalan tengah maka kami putuskan untuk meng-copy paste (copas) isi mail box tersebut berikut jawaban bagi setiap pertanyaan yang pernah muncul pada postingan yang sama sebelumnya dan menampilkannya kembali pada halaman blog melalui akun admin. Langkah ini kami tempuh semata-mata agar semua respons (pertanyaan) dari para pengunjung yang pernah termuat pada postingan (yang sama) sebelumnya dapat tampil kembali di halaman yang sama sebagaimana mestinya. Kami mohon maaf atas segala ketidak nyamanan ini. Semoga para pengunjung blog ini dapat memakluminya.
    Terima kasih.
    *[admin]

    BalasHapus
  2. Berikut adalah pertanyaan2 & jawaban yng kami posting kembali :

    Anonim mengatakan...
    permisi bos,. sya minta data permintaan benih gurami dong untuk wilayah jogjakarta klu ad,.
    tlong ya bos...butuh banget nih..
    trish_bkl@ymail.com
    3 MARET 2010 11:07

    Info lengkapnya coba mas Tris akses di situs pemprov DIY berikut : http://www.fbc.perikanan-diy.info/
    Semoga membantu anda. Terima kasih :)
    4 MARET 2010 04:28


    Anonim mengatakan...
    permisi pak... apa tempat bapak bisa dibuat untuk taruna perikanan integrasi mengambil data2 buat laporan kuliah kami... makasih...
    21 MARET 2010 00:50

    + Jawaban u/ Sdr. Anonim (komen tertanggal 21 Maret 2101).
    Pertama kami sampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan pada blog ini.
    Kedua, untuk kegiatan studi maupun penelitian di IKT dapat dilakukan dengan melampirkan surat pengantar resmi dari pihak sekolah/ perguruan tinggi dimana saudara/i tengah menempuh studi saat ini. Disamping untuk tertib administrasi kami, hal ini juga berguna bagi kepentingan saudara/i sendiri nantinya. Beberapa siswa & mahasiswa Jurusan Perikanan yang pernah mengambil data primer (sampling data) & penelitian lainnya di tempat kami selalu dilengkapi/ menyertakan surat pengantar dari pihak Sekolah/Perguruan Tinggi masing2. Hal ini diperlukan bagi pengesahan (keabsahan & validitas data) yang diambil dari lokasi yang dimaksud.
    Terima kasih.
    22 MARET 2010 13:21


    Pak mau nanya untuk kolam terpal sistim sirkulasi airnya gimana juga filtrasinya. (Hari, Samarinda)
    23 MARET 2010 13:22

    Salam kenal mas Hari di Samarinda.
    Terima kasih atas kunjungannya ke blog IKT.
    1. Salah satu kelebihan kolam terpal memang tidak harus menggunakan sistem air mengalir, namun sebagai gantinya u/ menjaga kualitas air maka dilakukan pen-siphon-an (penyedotan) lumpur daar kolam (kira2 25%-30an% vol max air kolam, atau disesuaikan dng situasi dan kondisi air kolam saat itu) secara rutin (terjadwal), misal sebulan sekali pada budidaya lele intensif atau disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kualitas air kolam. Jika Air sudah terlihat pekat dan lumpur dasar kolam sudah mulai menumpuk maka sebaiknya segera di-siphon. Cara pen-siphonan bisa dilakukan dengan selang biasa yang ujungnya diberi pipa paralon berforasi yang didisain sedemikian rupa agar se-waktu2 mudah diganti dan dibersihkan. Penyedotan bisa dilakukan dengan mesin pompa atau cara gravitasi biasa, disesuaikan dengan banyak sedikitnya lumpur yang akan dikeluarkan dan juga ukuran kolam budidaya yang ada. Saat pen-siphon-an biasanya segera dilanjutkan dng pengisian vol air baru sebanyak yang terkuras. Disarankan proses pengisian air yang baru dilakukan dengan cara pancuran.

    2. Filtrasi (proses filtering?) dapat dilakukan dng beberapa cara. Yang paling sering kami lakukan adalah dengan menggunakan pecahan batu2an zeolit yang di letakkan di dalam bak penyaring. Jika air cukup keruh maka sebelum di-filter dilakukan proses pengendapan di bak terpisah (selama lk 3-7 hari, tergantung tingkat kekeruhan airnya) barulah kemudian dialirkan ke bak penyaringan (water torrent jika tersedia). Terkadang pada kondisi tertentu (saat sumber air baku yang ada sangat keruh) maka perlu juga ditambahkan lapisan ijuk dan pasir berselang-seling dibawah lapisan batuan zeolit tsb agar diperoleh tingkat kejernihan yg lebih baik.
    24 MARET 2010 10:18

    BalasHapus
  3. Anonim mengatakan...
    Salam Pak...!
    Saya mau mencoba mebuat kolam tuk gurame,tapi d daerah ibu saya pegunungan maka semua kolam daerah sana airnya langsung mengambil dari gunung dgn menggunakan pipa.Nah gmn pak apabila seperti itu kolam harus dari terpal juga atau boleh langsung tanpa terpal?Trus makanannya yg lebih bagus biar cepat besar apa ya pak?Makash Pak sebelumnya....!
    Sonjayaarlin@yahoo.co.id
    2 APRIL 2010 17:06

    @Sonjayaarlin. Mohon maaf pertanyaannya baru sempat terjawab sekarang..

    Media kolam terpal sifatnya fleksibel, dapat diterapkan dimana saja terutama di daerah yang terbatas supply air bakunya. Untuk daerah2 dengan sumber air langsung dari mata air pegunungan (supply air melimpah) seperti tempat anda rasanya cukup ideal untuk budidaya ikan dengan sistem air mengalir. Kolam terpal bisa menjadi alternatif karena ekonomis (lebih murah dibanding kolam permanen, misalnya), penggunaan air baku budidaya pun bakal lebih hemat (tingkat kebocoran di kolam terpal sangat minim), air hanya berkurang sedikit (10-15 cm/bulan) itupun hanya karena penguapan. Membuat kolam terpal dengan ukuran yang lebih besar (> 200 m2) pun tampaknya bukan persoalan lagi karena bahan terpal toh bisa disambung dengan cara pemanasan seperti halnya kolam terpal yang terdapat di Pasar Induk Perikanan Kulon Progo (Kulon Progo Fish Center) di kota Wates, Kulon Progo-DIY.

    Perihal pakan yang bagus tentu yang kandungan nutrisinya cukup lengkap, baik pakan buatan sendiri maupun pakan olahan pabrik (pellet). Untuk mencapai tingkat pertumbuhan optimal, tambahkan beberapa supplemen pakan, khusus untuk budidaya perikanan yang dapat dibeli di poultry2 terdekat. Tambahkan pula vit C, B1 & B2 (B komplek jika ada) pada saat pencampuran pakan diselingi dengan pemberian pakan alami berupa hijauan daun-daunan. Karena sifat vitamin yang mudah rusak karena pengaruh faktor lingkungan (suhu, kelembaban & sinar matahari langsung) maka pilihlah merk/ produk vitamin yang direkomendasi khusus u/ kegiatan budidaya perikanan. Enzym pemacu pertumbuhan juga dapat ditambahkan pada saat pencampuran pakan bagi bibit ikan (lele atau gurame) yang masih dalam taraf awal perkembangannya (umur bibit masih dibawah 6 minggu). Anda dapat mencoba enzym jenis amilase & protease, cobalah tanyakan di Apotek-apotek jika poultry di sekitar tempat anda ternyata belum menyediakannya.

    Sejauh yang kami ketahui, umumnya pertumbuhan ikan gurame kurang optimal di daerah pegunungan yang berhawa dingin (suhu harian kurang dari 25 derajat C), namun cukup ideal untuk usaha perbenihan (pemeliharaan indukan dan pemijahan). Silakan memilih segmen budidaya (produksi telur, pembibitan atau pembesaran) yang paling sesuai dengan kondisi di daerah anda.

    Terima kasih kembali & selamat mencoba. Semoga berhasil.
    6 APRIL 2010 13:53

    BalasHapus
  4. Anonim mengatakan...
    Mau nanya nich, saya punya 2 kolam terpal dengan ukuran 6x7 m dan air 30-50 cm dan masing kolam saya beri airator untuk aquarium filter dgn batu zeolit, kolam yang satau saya isi lele 2000 ekor uk 5-7, dan satunya diisi gurami 1000 ekor uk korek, setelah bibit dimasuan ke kolam tiap harinya ikan mati 10-30 ekor, kebetulan sering hujan, dan akhir2 ini sudah jarang hujan malah airnya berbusa, bagaimana cara mengatisi permasalahan ini, trims sebelumnya
    Jovan_lia@yahoo.co.id
    4 APRIL 2010 23:28

    BalasHapus
  5. @Sdr/i. Jovan
    Sebelum bibit ikan dimasukkan apakah telah dipastikan bibit tersebut cukup berkualitas? Sebaiknya bibit ikan berasal dari budidaya ikan di media sejenis (sesama kolam terpal). Oh ya, apakah air kolam sebelumnya sudah di pra-kondisi dengan baik? Jika belum cobala prakondisi air kolam terlebih dahulu. Prosesnya terdiri dari beberapa tahap, setidaknya melalui penggaraman 200gr/m3 selama 3-7 hari (lamanya bisa bervariasi tergantung kualitas air baku yang digunakan) kemudian dilanjutkan dengan pemupukan organik (ada berbagai merk kualitas bagus yg bisa dibeli di poultry2 terdekat) atau menggunakan katalis plankton (khusus yg berbentuk serbuk dpt dibeli di agen2 nya). Setelah air berubah warna menjadi bening kehijauan (normalnya butuh waktu 3-5 hari) barulah bibit ditebarkan. Cara penebaran bibit dan pemeriksaan kualitas air kolam terpal sebelum tebar bibit telah beberapa kali dibahas di Forum Diskusi & Tanya Jawab di bagian side bar blog ini. :)

    Penggunaan filter dng butiran zeolit, aerator sudah tepat. Ada baiknya beberapa pecahan batu zeolit (berukuran 4-6 cm) dimasukkan juga ke dalam kolam sebagai media perkembangbiakan (koloni) bakteri jenis nitro (nitrosomonas & nitrobacter) yang sangat diperlukan dalam detoksifikasi proses dekomposisi kotoran di dasar kolam yang umumnya akan menghasilkan amonia (dalam bentuk gas terlarut) yang dapat meracuni ikan. Jika bakteri jenis nitro ini populsinya sedikit maka konsentrasi amonia akan meningkat tajam, jika tidak segera diantisipasi maka ikan akan kolaps dalam hitungan jam !

    Pilihlah batuan zeolit yang berkualitas baik, cirinya berwarna hijau kebiru-biruan atau yang telah direkomendasi oleh Kementerian ESDM. Bakteri nitro juga berguna sebagai pen-supply unsur hara yang diperlukan bagi tumbuh berkembangnya plankton yang merupakan sumber pakan alami bagi ikan. Selain itu bakteri nitro dalam jumlah yang cukup akan dapat menekan pertumbuhan bakteri pathogen yang merugikan.

    Banyaknya busa yang mengapung pada permukaan air menjadi pertanda bahwa kondisi air kolam tidak sehat. Busa ini bisa jadi berasal dari banyaknya plankton yang mati dan peningkatan konsentrasi gas CO2. Biasanya dibarengi dengan keruhnya air dan cenderung (mudah) menjadi pekat. Jika demikian halnya maka segeralah pisahkan ikan yang tidak sehat (misalnya lele yang menggantung atau gurame yang berenang dalam posisi miring dan berputar-putar). Sesegera mungkin gantilah air kolam dengan air baru yang segar, jernih dengan kadar oksigen terlarut yang cukup (> 4 ppm), pH netral (kisaran 6,5-7,8) syukur jika mendekati angka 7, kedalaman genangan air kolam tidak kurang dari 80an cm dan lakukan penggaraman (dosis 100-150 gr/m3) selama 3-5 hari berturut-turut sambil mencermati perkembangan kondisi ikan. Selama proses pemulihan kondisi kesehatan ikan kurangilah porsi pemberian pakan pellet (terutama yang kandungan proteinnya terlalu tinggi, diatas 35%), perbanyak porsi pakan hijauan daun (disarankan yang sudah di cacah/ di rajang). Setelah proses penggaraman selesai, berikan probiotik jenis lacto yang dicampur pada pakan (pellet) dan probiotik jenis nitro yang dipercikan pada permukaan kolam (dosis 10 ml/ m2) secara rutin seminggu sekali sampai saat ikan siap dipanen.

    Untuk menjaga kualitas air kolam sangat disarankan untuk memantau kualitas air kolam secara rutin dan terjadwal (misal 3 hari sekali atau seminggu sekali), pembersihan lumpur di dasar kolam (sebulan sekali atau jika air sudah mulai pekat) dan pantaulah juga parameter : pH, suhu, oksigen terlarut, salinitas (kadar garam), tingkat kekeruhan dan seterusnya secara berkala. Setelah terkena air hujan segera mungkin percikan larutan garam (kadar 100 gram/m3) pada permukaan air kolam secara merata (tak perlu berlebihan, secukupnya saja). Dengan semua perlakuan tersebut diatas semoga sang ikan kembali sehat dan makan dengan lahap serta cepat pertumbuhannya.
    Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  6. Salam sejahtera buat Bapak sekeluarga.
    Sy Ahmad Buhori, Anggota DPRD Kab. Subang - Jabar. Sy sangat terkesan dg usaha Bapak. sudi kiranya Bapak dapat menerima kunjungan kami, Insyaallah bulan mei ini sy ada kunjungan ke jogya. Banyak ilmu dan informasi yg sy dapatkan di blog ini yg dapat kami terapkan di daerah kami.
    mohon konfirmasi. terima kasih atas perhatiannya.

    BalasHapus
  7. Salam sejahtera kepada Bapak Ahmad Buhori sekeluarga di Subang - Jawa Barat.
    Tentu merupakan suatu kehormatan bagi saya pribadi dan juga rekan-rekan pembudidaya satu kelompok di IKT (IkanKolamTerpal) mendapat kunjungan dari Bpk. Ahmad Buhori dan Anggota DPRD Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat yang berkenan menyempatkan waktu di sela-sela kunjungan kerja di kota Yogyakarta untuk meninjau kolam-kolam kami di Wates dan Pengasih, Kab. Kulon Progo, Propinsi DIY. Dengan senang hati kami menunggu kedatangan Bapak Ahmad Buhori dan rombongan.
    Tak lupa pula kami haturkan terima kasih atas atensi dan apresiasi yang telah diberikan pada blog kami.

    BalasHapus
  8. Pak, saya tertarik sekali untuk memelihara (pembesaran) ikan gurame. Didaerah saya (jember)air berlimpah tapi untuk musim kemarau tetap saja air menyusut. sehingga memelihara dikolam tanah jelas tdk mungkin. alternatifnya kolam beton/kolam terpal. Saya tertarik memelihara gurame media terpal tetapi ada janggalan dalam hati saya yg selalu mengganggu yaitu tingkat keberhasilan nya. karena dari teman2 saya yang sudah memelihara gurame media terpal, mereka semua tidak sukses (sebab penyakit (cacar)/stress/kepanasan)Nah untuk mengatasi nya bagaimana Pak?yang saya ingin tanyakan adalah
    1. Pembuatan kolam ikan terpal yang benar
    2. Cara pemeliharaan yang tepat untuk media ikan terpal
    Terimakasih Pak.

    Anton, Jember
    358249999yahoo.com

    BalasHapus
  9. @Anton di Jember, Jawa Timur
    Apa yang dialami oleh beberapa teman Anda dan mungkin pula rekan2 lainnya yang kebetulan baru menekuni budidaya ikan di media kolam terpal boleh jadi disebabkan faktor penerapan pola budidaya yang belum tepat ( bukan 'tidak tepat' lho..) Hal yang sama pun pernah kami alami disaat awal memulai usaha budidaya ini. :)
    Perbedaan mendasar pada budidaya ikan media kolam terpal dibanding media lainnya adalah tidak menggunakan sistem air mengalir sehingga untuk menjaga kualitas air kolam terpal perlu adanya pensiphonan dan penggantian sebagian volume air yang dilaksanakan setiap periode waktu tertentu baik dengan cara sirkulasi atau re-sirkulasi (terutama pada daerah2 yang ketersediaan air baku budidaya-nya sangat terbatas).
    Nah, perbedaan pola budidaya ini seharusnya diikuti juga dengan kemauan yang kuat dari rekan2 untuk merubah kebiasaan dari cara/ pola budidaya sebelumnya. Pen-siphon-an misalnya, adalah hal yang tak dikenal pada budidaya ikan di kolam tradisional tetapi menjadi hal yang wajib dilakukan pada budidaya di media kolam terpal demikian pula halnya dengan sirkulasi atau resirkulasi air kolam. Pemilihan bibit ikan (yg berkualitas) dan proses pre-conditioning air kolam juga harus dilakukan dengan benar dan tepat sebelum bibit ikan ditebarkan. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan sejak awal karena akan mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya nantinya.
    Hal lain yang patut dicermati adalah tentang pakan. Gunakanlah pakan (olahan pabrik atau buatan sendiri) yang kualitasnya memenuhi standar budidaya perikanan, seperti : kandungan nutrisi, higienis dan cukup awet (dapat disimpan untuk beberapa waktu). Singkat kata ada 3 hal yang harus dicermati pada budidaya ikan di kolam terpal yakni terpenuhinya faktor kualitas: bibit ikan, air kolam dan pakan.
    Pada budidaya ikan gurame di kolam terpal khususnya di segmen pembesaran (mulai ukuran 3 jari, dst) hendaknya hanya dilakukan pada kolam-kolam dengan kedalaman genangan air yang cukup (lk 90-100 cm, syukur jika bisa lebih) dan tingkat kepadatan tebar ideal 10-12 ekor/ m3.
    Informasi lebih lanjut seputar cara pembuatan kolam terpal ini insya Allah akan kami posting secara berseri pada kesempatan mendatang.
    O ya, kata 'tidak sukses' dari informasi Anda diatas kalau boleh kami tukar dengan kata 'belum sukses' agar bisa lebih membangkitkan semangat + rasa optimis rekan2 sekalian untuk terus mencoba hingga sukses. Semoga pak Anton tidak keberatan ya .. :)
    Selamat mencoba budidaya ikan di kolam terpal, tetap semangat dan yakinlah jika kami bisa maka anda pun juga bisa.
    Terima kasih kembali & semoga berhasil.

    BalasHapus
  10. Salam Pak,
    Saya mempunyai 3 buah kolam terpal, berisi masing - masing gurami umur 3 bln, gurami 1 bln dan lele 1 minggu, terimakasih banyak atas penjelanasan bapak pada pertanyaan saya terdahulu, pada bulan pertama ini kolam kedua yang berisi gurami saya dibuat pusing karena bibit gurami yang saya tebar ukuran korek tiap hari mati 3-6 ekor perharinya, dan sudah segala macam upaya sudah saya lakukan mulai dari mengganti air, sipon dll dan membaca beberapa postingan bapak dan jawaban dari blok ini sangat membantu, yaitu saya tidak memberi makan berupa pelet sama sekali dan menggantinya dengan daun pepaya dan kangkung dan alhamdulillah ikan berkurang yang mati dan sampai saat ini tidak ada sama sekali, sekarang sudah mulai sedikit demi sedikit saya beri pelet agar ikan cepat besar, dan saat ini yang menjadi masalah yaitu pada kolam pertama saya yang berisi gurami umur 3 bln, air kolam agak keruh warna agak kecoklatan dan saat cuaca panas pada permukaan kolam penuh dengan semacam lumut berwarna hijau tetapi ikan tidak ada yang mati, upaya yang sudah saya lakukan adalah menyerok lumut tsb, mensipon dan mengurangi airnya serta pemberian tumbuhan air berupa enceng gondok tetapi hasilnya nihil, dan perlu bapak ketahui tiap kolam sudah saya beri aerator dengan filter batu zeolit, tiap habis hujan saya beri garam, yang saya tanyakan langkah atau upaya apa yang harus saya lakukan, trims sebelumnya semoga tetap sukses selalu.
    Jovanka - Madiun
    jovan_lia@yahoo.co.id

    BalasHapus
  11. Bravo IKT , isi blog - nya benar - benar informatif dan praktis ....

    BalasHapus
  12. @Jovan Lia
    Terima kasih telah berbagi info pada rekan2 pengunjung blog ini. Setelah mengamati foto2 kolam yang terkirim kemarin tampaknya faktor penyebab tumbuhnya lumut yang menutupi hampir seluruh permukaan air kolam (blooming) antara lain adalah karena lingkungan air kolam yang terlalu 'subur' atau rekan2 kami menyebutnya 'kesuburen'. Boleh jadi karena pemupukan yang agak berlebih atau pemberian katalis plankton yang dosisnya melampaui takaran.
    Sekali saja lumut dapat tumbuh subur maka biasanya agak sulit untuk memberantasnya dengan tuntas kecuali dengan membersihkan seluruh bagian kolam (hingga betul2 bersih) dan mengganti seluruh air kolam sekaligus. Namun hal ini cukup beresiko mengingat usia bibit ikan yang masih sangat muda.
    Anda bisa mencoba cara sederhana (yang juga pernah kami lakukan) dan terbukti cukup effektif meredam pertumbuhan lumut ini, yaitu :
    1. singkirkan semua tanaman apung dan lumut dari lingkungan kolam, sebersih mungkin tentunya
    2. kurangi volume air kolam sebanyak 60-70%
    3. lakukan penggaraman dengan takaran normal (1 ons/m2) dan tidak perlu berlebihan, gunakan garam yang tidak mengandung iodium atau dikenal juga sebagai garam ikan
    4. tunggulah barang 1-2 hari lalu tambahkan air baru yang segar hingga mencapai volume semula
    5. masukkan sabut kelapa kering (bhs jawa-nya: 'sepet') ke air kolam dan letakkan di sudut2 kolam, jumlahnya kira-kira setara dengan sabut yg berasal dari sebutir kelapa
    6. tunggulah beberapa waktu (sekitar 1-3 hari) hingga air kolam berubah warna menjadi sedikit kemerahan atau kecoklatan
    7. selama proses berlangsung (poin 3 sampai 6), pemberian aerasi maupun probiotik dihentikan sementara waktu dan pemberian pakan pellet juga dikurangi
    8. pemberian pellet ke porsi semula mulai dapat dilakukan pada hari ke 5 atau ke 6 secara berangsur-angsur sambil mengamati ada tidaknya pertumbuhan lumut baru.
    Selamat mencoba dan semoga berhasil.
    Salam sukses juga untuk Anda sekeluarga.

    BalasHapus
  13. @Fawwaz
    Terima kasih atas apresiasinya. Semoga info yang tersaji bermanfaat bagi rekan2 semua khususnya yang tertarik utk mulai mencoba usaha budidaya ikan air tawar terutama lele dan gurame dengan menerapkan teknologi sederhana, tepat guna dan ramah lingkungan.

    BalasHapus
  14. Terima kasih sekali bapak atas tanggapanya baik lewat blok ini maupun email dan sms saya, mohon jangan bosan - bosannya untuk tetep memberikan semangat kepada kami yang pemula dan awam dibidang perikanan, dengan penerapan tehnologi sederhana, tetap guna dan ramah lingkungan dengan bimbingan para pakarnya.
    sukses selalu dan jangan pantang menyerah

    BalasHapus
  15. salam kenal pak..

    saya mau tanya nie, saya mau usaha budidaya cacing sutra.. klo pake kolam terpal bgmn caranya? dan perlukah difilter seperti pensiphonan??
    setau saya, salah satu makanan cacing sutra adalh lumut..
    trimakasih atas perhatian n jawabannya..

    salam sukses..

    yesika-semarang
    yesika.neria@gmail.com

    BalasHapus
  16. @neria (yesika) di Semarang
    Maaf kami belum pernah membudidayakan cacing sutera (tubifex). Selama ini hanya mengandalkan pasokan para pengepul atau dari hasil tangkapan langsung di habitat alaminya (sungai, kali). Seorang rekan di IKT pernah mencoba budidaya tubifex ini tetapi bukan di media terpal dan sayangnya hasilnya masih jauh dari harapan.
    Mungkin diantara pembaca sekalian ada yang berkenan berbagi info (pengetahuan) atau sekedar sharing pengalaman ttg budidaya tubifex ini? :-)

    Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Salam sukses selalu buat Anda.

    BalasHapus
  17. salam kenal om..
    saya femil dari bogor (femil.ishak@gmail.com)
    mau bertanya banyak.saya mulai tertarik dengan usaha ikan gurame,saya mau mencoba menetaskan telur dulu tapi kurang begitu faham untuk media penetasan,air,dan suhunya om..
    dari artikel yang saya baca semuanya sama garis besarnya saja. tapi ketika diparaktikan hasil tetas kurang baik,apakah airnya di kasih garam seperti penetasan ikan lele,,mohon bantuannya om..

    BalasHapus
  18. @Femil di Bogor.
    Khusus untuk penetasan telur gurame, air di media penetasan tidak perlu digarami. Yang lebih utama adalah memastikan bahwa sebelum diisi air yang memenuhi syarat budidaya, bak penetasan dan wadah tetas (ember/ baskom) telah benar2 dibersihkan dari segala kotoran yang dapat menjadi pemicu timbulnya penyakit (jamur maupun bakteri pathogen). Selain kualitas air baku harus benar2 diperhatikan, pembenihan hendaknya dilakukan dalam ruangan yang terlindung (hatchery) namun masih mendapat cukup cahaya matahari.
    Sebagai informasi, ada beberapa hal yang perlu dicermati saat melakukan penetasan telur, yakni :
    - telur yang berkualitas hanya didapatkan dari indukan yang berkualitas. Telur ini bisa diperoleh dari Balai Benih Ikan (BBI) atau dari Usaha Perbenihan Rakyat (UPR) baik perorangan maupun kelompok yang telah melaksanakan CPIB (memiliki sertifikat CPIB).
    - persiapan media penetasan berikut tahapan pre-conditioning air bak tetas telah dilakukan dengan baik dan benar
    - kualitas baku air yang memenuhi persyaratan budidaya (tingkat kejernihan, bebas pencemaran, kadar logam rendah, pH netral (sedapat mungkin dijaga pada kisaran 7), oksigen terlarut (DO > 4 ppm, syukur jika 5 - 8 ppm)
    - pergantian air rutin setiap 2-3 hari sekali (jika tanpa menggunakan sistem air mengalir)
    - temperatur optimal (dipertahankan pada kisaran 26 - 28 derajat Celcius sepanjang hari)
    - pakan alami berkualitas dan tersedia lebih dari cukup (tubifex sp atau artemia, daphnia jika tersedia) yang diberikan secara teratur dan bertahap sampai benih dapat mengkonsumsi pakan buatan (pellet berbentuk serbuk).
    - pemeliharaan benih dilakukan dengan sistem air mengalir (sangat dianjurkan)
    - alat2 budidaya/ perlengkapan lain yang diperlukan (ember, aerator, regulator, selang, pipa siphon kecil, dll) selalu terjaga kebersihannya dan tidak dicampur adukkan fungsi penggunaan dan penyimpanannya dengan peralatan budidaya segmen lainnya.
    - untuk mempertahankan kualitas air dan kesehatan serta laju pertumbuhan benih yang optimal, coba gunakan produk2 probiotik yang sesuai dan memang hanya diperuntukkan untuk budidaya segmen pembibitan (pemijahan, penetasan dan pembenihan).

    BalasHapus
  19. Maaf Pak, probiotik apa yang biasa bapak gunakan untuk benih gurami dan umur berapa gurami bisa diberi probiotik. terimakasih
    Rino-Pekanbaru, Riau
    rinoaquaculturist@gmail.com

    BalasHapus
  20. @Rino di Pekanbaru, Riau
    Mulai diberikan setelah benih dapat mengkonsumsi pellet butiran kecil (1mm, misalnya F999 atau yg setara) pada tahap akhir pendederan II. Kami menggunakan probiotik jenis lacto (dominan kandungan bakteri lactobacillus), dosisnya lk 1cc/kg pakan. Ada beberapa merk terkenal yg kualitasnya produknya cukup bagus dan dapat dibeli di poultry2 terdekat disekitar tempat Anda. Pada kondisi normal probioik jenis lacto ini cukup diberikan seminggu sekali bergantian (berselingan) dengan pemberian Vit C, Vit B1 & B2 pada pencampuran pakan dan probiotik jenis nitro yg dipercikkan merata pada permukaan air kolam.
    Mohon maaf untuk sementara ini kami belum bisa menyebutkan merknya satu-persatu disini namun jika Anda cukup jeli beberapa merk tsb pernah ditulis oleh rekan2 anda di kolom2 komentar pada beberapa postingan. Kalau boleh kami sarankan, pilihlah produk yang telah terdaftar di DKP (sekarang namanya KKP atau Lembaga berwenang lainnya) dan memiliki nomor registrasi (registered) sehingga lebih terjamin kualitasnya. :-)
    Semoga benih guramenya selalu sehat dan dapat tumbuh optimal seperti yang diharapkan. Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  21. sebelumnya salam kenal pak..
    saya galihh dari solo....saya berminat memelihara ikan lele di terpal...karna kami sebagai pemula...mohon bapak bisa menjelaskan persiapan apa yang yg diperlukan sebelum benih ditabur....(kalo perlu pemupukan gmn caranya jg)..
    terima kasih atas tanggapannya

    BalasHapus
  22. @Galihh di kota Solo
    Jawaban pertanyaan Anda kami tautkan ke sini, silakan di klik. Terima kasih kembali.

    BalasHapus
  23. Salam SUKSES Pakde, ikan nila merah saya kok tiap beranak anaknya pada hilang semua ya... apa setelah dilepas dari mulut induknya terus dimakanin sama nila yang lain ya... udah beberapa kali sang betina beranak kok gak ada benih ikannya.. sesekali suka nongol, mungkin yang lepas dari mulut induknya kali ya.. tapi saya tungguin minggu berikutnya pada hilang tuh anak nila... padahal tempat masih cukup luas buat tuh anak ikan, saya juga kasih tanaman air buat ngumpet..Thank U Pakde...

    BalasHapus
  24. @Kriswahyudi di Jakarta.
    Apa kabar pak Kris? Komentar Anda di shoutbox cukup mengagetkan kami lho.. Apalagi tiba2 bawa berita ttg ikan nila merah yg telah beranak-pinak.. Sip, &salut buat pak Kris, SEMANGAT 45 nya tak pernah luntur ! He..he..
    Selama ini kami menduga Anda sudah terbang ke Padang u/ persiapan kolam-kolam budidaya disana... :-)
    Ok pk Kris, kami coba menjawab pertanyaannya (namun hanya sejauh yg kami ketahui sj slama ini lho..)
    - selama fase telur hingga menetas (lk 1 mingguan) akan terus dirawat oleh sang induk dalam rongga mulutnya
    - setelah menetas (fase larva) hingga sekitar 7 hari kemudian, sang induk masih akan terus menjaga larva2 ini dalam mulutnya walau sesekali ada juga larva yang agak nakal dan mencoba 'nyelonong' keluar namun biasanya akan segera masuk kembali ke rongga mulut sang induk
    - lamanya sang induk menjaga larva dalam rongga mulut bisa bervariasi (tidak selalu pas 7 hari), boleh jadi waktunya menjadi lebih lama karena sang induk merasa lingkungan disekitar kolam belum benar-benar aman & nyaman bagi benih2 nila yg masih sangat rentan terhadap serangan predator
    - benih2 nila tersebut baru akan dilepas sepenuhnya (namun tetap diawasi ketat oleh sang induk) jika lingkungan sekitar dirasa telah cukup aman dan nyaman
    Karena sifat ikan nila yang demikian sensitif inilah maka para pembudidaya tentu akan sangat memperhatikan suasana lingkungan di sekitar kolam. Sedapat mungkin letak kolam nila jauh dari kebisingan atau hal2 lain yang dapat mengganggu, suana kolam dibuat cukup teduh dan tidak banyak orang yang berlalu lalang disekitar bibir kolam pemijahan/ pembenihan.
    Mohon maaf jika jawaban kami terasa kurang lengkap. Terus terang kami blum dapat berkomentar lebih jauh tentang A-B-C-D nya budidaya ikan nila. Di tempat kami u/ sementara ini ikan nila merah memang hanya dipelihara pada beberapa kolam terpal berukuran kecil-sedang (lk 12-16an m2) secara terpisah. Jumlahnya pun tidak banyak karena belum dibudidayakan secara intensif seperti halnya lele dan gurame. Beberapa ikan nila merah lainnya juga dipelihara bersama ikan2 gurame tetapi fungsinya hanya sebagai indikator alami terutama untuk memudahkan pemantauan kualitas air kolam.
    O ya, informasi lebih lengkap tentang budidaya ikan nila bisa pak Kris dapatkan di situs ini, ikan nila. Semoga info yang tersaji dapat membantu.
    BTW apa pak Kris sudah mencoba nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia)? Nila unggul hasil penelitian ahli2 di BBPBAT Sukabumi yang kabarnya bakal menjadi andalan perikanan budidaya di tanah air khususnya ikan nila.
    Terima kasih kembali & salam sukses selalu untuk pak Kris sekeluarga.

    BalasHapus
  25. Terimakasih banyak Pak atas informasinya... saya batal ke padang, disana airnya dingin banget pak dan transportasi susah. Bulan juli saya insyaallah pindah ke bandung tapi sedih karena gak punya lahan untuk bikin kolam terpal. ihiks ihiks.. sekarang lagi nyicil beres2 buat pindahan jadi kolam terpal saya dilipet..(he he..rupanya kolam bisa di lipat ya..?!) yang ter sisa kolam terpal kecil 2x3m ber isi indukan nila merah, mungkin karena crowded kali ya pak jadinya anak ikan pada ngilang.. hehe..pagi tadi saya tangkep semua nila buat sarapan.. Moga di bandung bisa dapet rumah tuk bikin kolam terpal Pak..maunya sih 4 kolam (lele, gurami, bawal dan nila..mumpung BLOG IKT belum ditutup..hehe..jadi bisa nyantri disini..) Tiba2 Sekarang hidup berasa jadi orang terMISKIN diDUNIA klo gak punya KOLAM TERPAL. hehe.. Salam SUKSES Pak...

    BalasHapus
  26. Pak Mur,

    Ada yang lupa mau ditanyain nih. Bulan oktober 2009 kmarin saya uji coba membesarkan benih gurame ukuran 3 jari ada yang 2 jari, selama 3 bulan berat ikan sudah mencapai 3 - 3.5ons (skilo isi 3 ekor) saya senang melihat hasil itu. tetapi ada beberapa ikan yang mata nya membesar (mendolo) saya penasaran akan hal.
    yang saya ingin tanyakan : apakah hal itu disebabkan oleh pemberian pakan pelet terlalu banyak atau karena suatu penyakit yang menyerang gurame?

    Trima kasih Pak Mur

    BalasHapus
  27. Nama :Pambudi
    E-mail : yuliko_p@yahoo.co.id
    pak mursidi setelah saya membaca blog Budidaya Ikan Kolam Terpal (IKT)saya tertarik untuk mengikutinya dan karena lahan yang terbatas saya tertarik untuk pembiitannya saja, tidak dipembesarannya, yang saya tanyakan bapak :
    1.Apakah bapak menyediakan benih (telor gurame) dan berapa hargannya per 10.000 ekor
    2.Kalo memang menyediakan apakah bisa kontinyu penyediaan benih telornya
    3.Ukuran kolam berapa kali berapa untuk benih 10.000 ekor gurami sampai umur 40 hari
    terima kasih.... saya pingin gak cuman coba-coba kalo bisa keberlanjutannya untuk tambahan penghasilan. terima kasih banya atas terjawabya pertanyaan saya

    BalasHapus
  28. Ass WW Pak Warsidi yth :
    Kalau sy pengen belajar sekalgus praktek di tempat Bpk apa bisa ? Bgmana caranya dan kapan waktunya.
    Matur nuwun - Wassalam.
    Abdul Fakih <doelgrage@yahoo.com)

    BalasHapus
  29. Untuk daerah Bandung dimana saya dapat belajar usaha lele kolam terpal?
    terima kasih pa!

    BalasHapus
  30. salam kenal pakde...
    saya Dwi di lampung, setelah membaca blog ini saya coba untuk buat 2 kolam terpal uk 2x1m kedalaman 1 m, saya sudah isi ikan nila dan satunya lele + gurame. yg saya tanyakan, knp ikan nila merah itu pada tampak pucatya pak, trus sering timbul kepermukaan, selanjutnya ada yg mati,airnya agak bau padahal blm ada 1 bulan. apakah perlu dikasih airator dikolam terpal atau mungkin ada penyakit lain pak.
    untuk kolam lele juga banyak yg mati size2 cm, apa kekecilan ya pak, mohon sarannya terimakasih

    BalasHapus
  31. Anonymous mau bertanya apa tempat budidaya bapak bisa dijadikan Praktek Kerja Lapang (PKL)?
    Kalau bisa apa saja persyaratannya dan dimana alamat lengkapnya atau no. telp yg bisa dihub?
    teriima kasih
    amieiah@yahoo.co.id

    BalasHapus
  32. mohon informasi merk probiotik jenis nitro, klo bisa kirim ke email saya
    khalid.darda@gmail.com
    trims

    BalasHapus
  33. salam. pak, 1 bulan yg lalu saya mulai memelihara gurami di kolam terpal ukuran 4x8m. air di isi setinggi 70 cm. pkai filter sirkulasi krikis sama busa filter. tiga minggu berselang, air sangat pekat hijau dan berbusa jika siang hari. ikan gurami yg saya tanam sebanyak 250 ekor dan nila gesit 3 liter ukuran jari telunjuk. untuk ikan nila, perkembangannya cukup bagus dan terlihat nyata. namun untuk gurami, seringkali ikan yang calon mati, berwarna gelap dan mengapug permukaan air. tidak lama ikan mati. tapi tidak ada tanda infeksi atau apa.. hanya kulit bagian atas lebih gelap dan bagian dadanya berwarna agak jingga. apa dan bagaimana pengelolaan dan perlakuan yang baik agar gurami yang kurang lebih tinggal setengahnya bisa terselamatkan.. (hilman -sukabumi)

    BalasHapus
  34. Salam,
    Mohon bisa diberikan informasi jaringan pemasaran produk ikan yang dibudidayakan, untuk wilayah Denpasar - Bali. Saya ingin membeli untuk dijual kembali. Mohon bisa dikirimkan melalui email.
    Terimakasih.
    Nyoman (inyomansudiana at yahoo. co. id)

    BalasHapus
  35. Salam kenal. Saya Budioko dari Sleman, Pak ada bibit gurami ukuran silet (7-10 cm)? Berapa harganya? Matur nuwun.

    BalasHapus
  36. salam kenal pak,saya herdis dari jawa barat,bisakah kolam terpal untuk pembenihan tersebut di buat diatas kolam yang sudah ada...jadi terpal tersebut berada diatas air...pengaruh ke pembenihannya bagaimana?

    BalasHapus

Mohon cantumkan nama anda, email bersifat optional (bisa disertakan/tidak) saat menuliskan pesan, kesan ataupun komentar. Terimakasih atas kunjungan anda ke blog kami :-)